AS Makin Terperosok di Iran, Bitcoin Makin Mudah Meluncur? Sudut Pandang Baru dari Arthur Hayes

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini menjadi pusat perhatian pasar keuangan global. Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, Arthur Hayes – salah satu pendiri bursa BitMEX – mengeluarkan opini yang menarik perhatian: keterlibatan AS yang lebih dalam dalam konflik bersenjata dapat menjadi katalis kuat bagi lonjakan harga Bitcoin.

Arthur Hayes: Perang Dapat Memicu Siklus Kenaikan Harga Bitcoin

Mỹ càng sa lầy tại Iran, Bitcoin càng dễ bứt phá? Góc nhìn mới từ Arthur Hayes

Berdasarkan analisis terbaru dari Arthur Hayes, sejarah menunjukkan bahwa setiap kali Amerika Serikat terlibat dalam kampanye militer besar di Timur Tengah, Federal Reserve (Fed) biasanya harus melonggarkan kebijakan moneter setelahnya guna mendukung perekonomian.

Hayes berpendapat bahwa perang yang berkepanjangan akan membuat pemerintah AS meningkatkan pengeluaran publik, yang berarti menerbitkan lebih banyak utang dan menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan. Ketika jumlah uang fiat meningkat, aset-aset langka seperti Bitcoin biasanya akan diuntungkan.

Ia menegaskan:

“Perang bersifat inflasioner, dan pencetakan uang tambahan untuk mendanai pengeluaran militer pada akhirnya akan mendorong harga Bitcoin melonjak tajam dalam nilai nominalnya.”

Mengapa konflik Iran berdampak pada Bitcoin?

Para ahli menganalisis mekanisme dampak tersebut melalui rantai logika berikut:

  1. Eskalasi peperangan $\rightarrow$ ketidakstabilan pasar global.

  2. Pengeluaran pemerintah melonjak tajam $\rightarrow$ utang publik meningkat.

  3. Fed terpaksa melonggarkan kebijakan moneter $\rightarrow$ kelebihan likuiditas.

  4. Investor mencari aset pelindung inflasi $\rightarrow$ aliran modal masuk ke Bitcoin.

Bitcoin semakin dipandang sebagai “emas digital”, terutama selama periode ketidakstabilan ekonomi atau geopolitik.

Mỹ càng sa lầy tại Iran, Bitcoin càng dễ bứt phá? Góc nhìn mới từ Arthur Hayes

Data terbaru menunjukkan bahwa giá Bitcoin berfluktuasi tajam mengikuti perkembangan situasi perang. Setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat, Bitcoin sempat turun ke area 63.000 USD, namun segera pulih ke hampir 67.000 USD seiring munculnya sentimen lindung nilai (hedging).

Hingga tanggal 2 Maret 2026, BTC terus berfluktuasi di kisaran 65.000–68.000 USD, mencerminkan kondisi tarik-ulur antara kekhawatiran terhadap risiko dan ekspektasi aliran dana baru yang masuk ke pasar kripto.

Hal ini menunjukkan bahwa saat ini Bitcoin memiliki sifat ganda: sebagai aset berisiko (risk asset), sekaligus perlahan mulai menunjukkan perannya sebagai aset pelindung keuangan (safe haven) dalam jangka panjang.

Apa yang harus dipahami investor dari prediksi ini?

Arthur Hayes tidak menyarankan untuk segera membeli saat ini juga. Ia berpendapat bahwa investor harus memantau tanda-tanda The Fed benar-benar memangkas suku bunga sebelum mengharapkan siklus pertumbuhan kuat Bitcoin dimulai.

Dengan kata lain, perang hanyalah katalis awal—faktor penentu utamanya tetaplah likuiditas global.

Kesimpulan

Pandangan Arthur Hayes mencerminkan sudut pandang yang semakin umum di pasar kripto: Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh teknologi atau siklus halving, tetapi juga terkait erat dengan ekonomi makro dan geopolitik.

Jika AS benar-benar terperosok dalam konflik Iran yang memicu kebijakan moneter longgar, Bitcoin dapat memasuki fase pertumbuhan baru. Namun, dalam jangka pendek, volatilitas tinggi tetap sulit dihindari saat pasar bereaksi terhadap setiap perkembangan situasi perang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *