Berdasarkan data terbaru, harga Bitcoin (BTC) terus berada di bawah tekanan koreksi pada fase saat ini, seiring dengan pasar mata uang kripto yang masih dalam kondisi volatilitas tinggi. Setelah BTC sempat pulih di sekitar ambang ~69.500 – 70.000 USD pada hari sebelumnya, harga masih belum berhasil membangun momentum kenaikan yang berkelanjutan di atas level dukungan teknis utama.
Pada sesi perdagangan tanggal 10 Februari 2026, Bitcoin bergerak dalam rentang ~68.000 – 70.500 USD, mencerminkan sikap hati-hati para investor. Para ahli analisis teknis memperingatkan bahwa jika harga tidak mampu bertahan di atas ambang 68.000 – 70.000 USD, BTC berpotensi untuk terus berfluktuasi atau menguji zona dukungan yang lebih rendah dalam jangka pendek.

Para investor jangka panjang terus memantau dengan ketat garis SMA 200-minggu (Simple Moving Average) dan level dukungan di sekitar 58.000 – 65.000 USD — zona harga yang sebelumnya dianggap sebagai “dukungan kuat” pada siklus penurunan sebelumnya, dengan potensi memicu aksi beli dari kelompok institusi maupun investor ritel.
Ethereum (ETH) – Berada di Bawah Tekanan, Dasar Harga Sulit Ditentukan
Sementara Bitcoin relatif stabil di sekitar area harga yang lebih tinggi bulan ini, Ethereum (ETH) – aset kripto terbesar kedua – masih mencerminkan tekanan yang lebih besar dari aksi jual pasar secara keseluruhan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa ETH terus diperdagangkan di dalam zona dukungan sekitar 2.000 – 2.200 USD, dan belum menciptakan terobosan nyata untuk mengonfirmasi tren pemulihan jangka panjang.
Meskipun Bitcoin sempat mengalami pemulihan ringan pada hari sebelumnya, ETH tetap berfluktuasi lebih tajam. Hal ini menunjukkan bahwa aliran dana ke altcoin masih sangat berhati-hati dan kekurangan momentum baru. Investor jangka pendek perlu memberikan perhatian khusus pada zona dukungan teknis guna menghindari risiko likuidasi posisi leveragedi tengah pasar yang sangat fluktuatif.
Altcoin dan Sentimen Pasar
Selain dua koin pemimpin tersebut, pasar altcoin juga menunjukkan pergerakan yang terdiversifikasi (divergent). Beberapa token dalam jajaran 10 besar berdasarkan kapitalisasi pasar seperti Cardano (ADA), Solana (SOL), maupun BNB bergerak di zona merah akibat penarikan modal dari aset berisiko. Para investor kini sedang bersikap waspada dalam mempertimbangkan strategi, apakah akan tetap memegang aset untuk jangka panjang atau melakukan ambil untung (profit taking) pada token yang telah mengalami kenaikan sebelumnya.

Meskipun terdapat beberapa sinyal positif selama sesi pemulihan harga, sentimen pasar tetap berada pada tingkat “waspada + sedikit ketakutan”, yang membuat banyak investor lebih memilih untuk menutup posisi dan menunggu konfirmasi tren baru sebelum meningkatkan risiko.
Penyebab Utama di Balik Fluktuasi Harga
Menurut para ahli, harga BTC – ETH dan pasar secara luas sedang dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
-
Sentimen pasar yang masih berhati-hati setelah rangkaian penurunan sebelumnya dan banyaknya posisi leverageyang terlikuidasi.
-
Faktor makro seperti kebijakan moneter dan risiko ekonomi yang masih belum jelas, menyebabkan aliran modal belum bisa kembali secara masif ke aset berisiko.
-
Likuiditas di pasar derivatif dan ETF Bitcoin yang fluktuatif, sehingga memengaruhi penawaran dan permintaan dalam jangka pendek.
Prospek Jangka Pendek
Bagi investor, level teknis yang perlu dipantau dalam beberapa sesi mendatang adalah:
-
BTC: Harus bertahan kuat di atas 68.000 – 70.000 USD untuk memperkuat tren jangka pendek.
-
ETH: Perlu menembus dan bertahan di atas 2.200 – 2.400 USD guna menciptakan sinyal pemulihan yang lebih kuat.
Langkah-langkah harga ini akan membantu mengonfirmasi arah pasar selanjutnya dan membantu investor mempertimbangkan rencana manajemen risiko yang efektif.
Kesimpulan
Berita pembaruan pada 10 Februari 2026 menunjukkan bahwa pasar mata uang kripto masih dalam fase volatilitas tinggi, dengan Bitcoin berfluktuasi di sekitar area 68.000 – 70.000 USD dan Ethereum berada di bawah tekanan yang lebih besar namun tetap berada di zona dukungan penting. Aliran modal yang masih berhati-hati membuat pasar membutuhkan lebih banyak konfirmasi sebelum menetapkan tren kenaikan yang berkelanjutan. Hal ini menghadirkan tantangan tidak hanya bagi investor jangka pendek, tetapi juga bagi institusi yang sedang mempertimbangkan strategi jangka panjang.

