Pada tanggal 6 Februari 2026, pasar mata uang kripto mengalami tekanan penurunan yang kuat saat Bitcoin (BTC) terus merosot ke level rendah yang signifikan, dengan pergerakan harga yang mencerminkan peningkatan sentimen risiko di seluruh pasar. Berdasarkan data perdagangan terbaru, Bitcoin telah turun lebih dari 13% dalam 24 jam, dan tercatat diperdagangkan di sekitar level 62.600 – 63.000 USD/BTC — level terendah sejak Oktober 2024, saat aksi jual massal meluas.
Penurunan tajam ini menyeret kapitalisasi pasar kripto global menyusut dengan cepat, dengan banyak altcoinmenunjukkan pemulihan yang lemah atau terus tenggelam dalam zona merah. Bahkan, beberapa laporan menunjukkan bahwa Bitcoin hampir menguji ambang 60.000 USD, sebuah angka yang belum pernah terlihat dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Ethereum Terpukul Berat, Kehilangan Lebih dari 10% Nilainya

Tidak hanya BTC, Ethereum (ETH) — mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar — juga mengalami kerugian besar pada sesi hari ini. Harga ETH tercatat turun sekitar 10–12% dibandingkan 24 jam lalu, diperdagangkan di kisaran ~1.900 USD setelah ambang batas dukungan (support) teknisnya ditembus. Penurunan ETH mencerminkan efek “seret” dari volatilitas negatif Bitcoin serta psikologi aksi jual massal di pasar.
Anjloknya harga ini membuat Ethereum kehilangan sebagian besar keuntungan harga yang diraih sejak akhir tahun lalu, sekaligus mendorong sentimen pasar ke dalam kondisi “ketakutan” (fear) tingkat tinggi — hal yang biasa terjadi pada pasar aset berisiko ketika harga terus-menerus menembus titik dukungan lama.
Penyebab Utama BTC dan ETH Merosot Tajam
Terdapat banyak faktor yang berkombinasi menyebabkan penurunan harga Bitcoin dan Ethereum saat ini:
-
Sentimen pasar beralih ke “risk-off“: Investor menarik modal dari aset berisiko seperti kripto karena gejolak keuangan global dan kekhawatiran ekonomi.
-
Likuidasi posisi leverage besar: Terjadi pembersihan posisi besar di pasar derivatif, yang memaksa penutupan banyak posisi Long secara massal.
-
Sentimen pasar berada di level ekstrem: Indeks emosi aset digital telah menyentuh zona “extreme fear” (ketakutan ekstrem), menunjukkan kecemasan yang meluas di komunitas kripto.

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa dompet para whale (cukong) dan kelompok pemegang besar BTC mulai mengurangi persentase kepemilikan mereka di level harga tinggi, yang mengindikasikan adanya distribusi besar-besaran di antara para investor kakap.
Reaksi Pasar dan Efek Domino
Anjloknya harga Bitcoin dan Ethereum tidak hanya berdampak pada kedua aset tersebut; seluruh pasar kripto sedang menyaksikan penurunan mendalam pada sebagian besar koin utama seperti Solana, BNB, XRP, dan lainnya. Hal ini berarti psikologi investor sedang sangat berhati-hati, dan arus modal cenderung keluar (flight to safety) dari aset-aset berisiko.
Prospek Teknis Jangka Pendek
Para analis teknikal mencatat bahwa jika Bitcoin gagal mempertahankan zona dukungan (support) 60.000 – 63.000 USD, harga kemungkinan besar akan terus menguji level yang lebih rendah dalam jangka pendek. Untuk Ethereum, zona dukungan penting lainnya berada di sekitar 1.800 – 1.900 USD; jika level ini tertembus, ETH berisiko jatuh lebih dalam lagi.
Kesimpulan
Tanggal 6 Februari 2026 mencatat pergerakan negatif yang sangat kuat dari Bitcoin dan Ethereum, di mana BTC jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024 dan ETH mengikuti tren penurunan tersebut. Tekanan jual massal, likuidasi posisi leverage, serta sentimen pasar yang menghindari risiko merupakan faktor utama yang membuat harga kedua aset besar ini terjun bebas. Di tengah kondisi pasar yang berada di zona “fear“, investor perlu waspada dan mengutamakan manajemen risiko saat bertransaksi dalam tren penurunan tajam saat ini.

