Dalam sebuah langkah yang mengguncang industri penambangan mata uang kripto pada awal April 2026, MARA Holdings (MARA) telah secara resmi mengumumkan pemangkasan 15% tim personel global. Keputusan ini diambil segera setelah raksasa ini menyelesaikan penjualan lebih dari 1,1 miliar USD Bitcoin, menandai langkah transformasi bersejarah dari sebuah perusahaan penambang murni menjadi perusahaan infrastruktur energi dan kecerdasan buatan (AI).
1. Transaksi penjualan 1,1 miliar USD Bitcoin: Melunasi utang dan restrukturisasi

Dari tanggal 4/3 hingga 25/3/2026, MARA telah melakukan salah satu penjualan aset terbesar dalam sejarah perusahaan dengan melepas 15.133 BTC, menghasilkan sekitar 1,1 miliar USD. “Obral” ini bukan karena kepanikan, melainkan langkah perhitungan keuangan strategis:
-
Pelunasan utang: Sebagian besar dana (sekitar 1 miliar USD) digunakan untuk membeli kembali surat utang konversi (convertible notes), membantu membersihkan neraca keuangan.
-
Perubahan kebijakan HODL: MARA telah secara resmi meninggalkan strategi “hanya simpan tidak jual” (HODL-only) yang telah bertahan selama bertahun-tahun untuk memprioritaskan likuiditas dan investasi pada teknologi baru.
-
Kehilangan posisi: Setelah penjualan ini, MARA telah turun ke posisi ke-4 dalam daftar perusahaan publik pemegang BTC terbanyak, menyerahkan posisi ke-3 kepada Metaplanet.
2. PHK 15% personel: “Rasa sakit” yang diperlukan untuk bertransformasi
Segera setelah penjualan aset, CEO Fred Thiel telah mengonfirmasi pemangkasan sekitar 40 posisi (setara dengan 15% dari total personel hingga akhir tahun 2025).

Meskipun pemutusan hubungan kerja sering dianggap sebagai sinyal negatif, pimpinan MARA menegaskan bahwa ini adalah sebuah “restrukturisasi strategis”. Perusahaan sedang mengalihkan sumber daya dari departemen penambangan tradisional ke sektor baru seperti HPC (Komputasi Performa Tinggi) dan infrastruktur AI.
Karyawan yang terdampak menerima paket pesangon yang mencakup gaji 13 minggu dan 1 bulan cuti berbayar hingga akhir April 2026.
3. Poros putar menuju AI – Jalan keluar bagi para penambang Bitcoin?
Di tengah tingkat kesulitan penambangan Bitcoin yang tinggi dan margin keuntungan yang semakin tipis, MARA mempertaruhkan seluruh masa depannya pada Infrastruktur AI.
-
Aliansi Starwood Digital: MARA telah menandatangani kerja sama dengan Starwood Digital Ventures untuk mengembangkan pusat data raksasa dengan kapasitas hingga 1 Gigawatt (GW).
-
Fleksibilitas (Model Hibrida): Pusat data baru MARA dirancang agar dapat beralih secara fleksibel antara menambang Bitcoin dan memproses tugas-tugas AI tergantung pada efisiensi ekonomi di setiap waktu.
-
Akuisisi teknologi: Dengan memegang 64% saham di Exaion, MARA melangkah percaya diri menuju penyediaan layanan “Infrastruktur sebagai Layanan” (IaaS) bagi pelanggan industri.
4. Dampak terhadap pasar dan saham MARA
Reaksi pasar terhadap informasi ini cukup beragam. Di satu sisi, analis Wall Street mengapresiasi langkah MARA dalam mengurangi beban utang. Di sisi lain, aksi jual Bitcoin oleh penambang besar seperti MARA menciptakan tekanan psikologis yang sangat besar terhadap harga BTC dalam jangka pendek.
Tantangan bagi MARA:
-
Tekanan persaingan: Harus berhadapan langsung dengan “raksasa” di bidang pusat data dan Cloud tradisional.
-
Efisiensi investasi: Transisi dari mesin tambang khusus (ASIC) ke chip pemrosesan AI (GPU) memerlukan modal yang sangat besar dan teknik operasional yang sama sekali berbeda.
Kesimpulan
Langkah MARA memangkas personel dan menjual habis Bitcoin bukan hanya cerita tentang satu bisnis saja, melainkan sinyal yang menunjukkan bahwa era penambangan Bitcoin murni akan segera berakhir. Untuk bertahan hidup, para “raja hashrate” terpaksa berevolusi menjadi kekaisaran infrastruktur digital, di mana AI dan energi adalah kartu kunci utamanya.

